logoblog

Cari

Tutup Iklan

Salah Sambung Membaca Syahadat

Salah Sambung Membaca Syahadat

Di Dusun Lemer Kecamatan Sekotong, nama Lok Soli’ah cukup populer. Walau dia menyandang ciri khas nama seorang perempuan, tetapi sebenarnya dia

Humor

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
08 Oktober, 2017 10:05:12
Humor
Komentar: 0
Dibaca: 2842 Kali

Di Dusun Lemer Kecamatan Sekotong, nama Lok Soli’ah cukup populer. Walau dia menyandang ciri khas nama seorang perempuan, tetapi sebenarnya dia laki-laki tulen. Umurnya sudah berkepala empat. Tetapi dia tetap menjadi idola wanita-wanita muda di kampungnya. Baik gadis maupun janda, bahkan tidak jarang juga wanita bersuami.

Penampilan Lok Soli’ah selalu rapi dan necis. Celana berplui dua, berkantong empat muka belakang. Berkemeja panjang warna kalem, sandal homyped dan berkacamata warna kecoklatan. Kantong celana belakang tampak penuh dengan dompet. Minyak rambut tidak kurang dari restoria penghitam rambut.

Gayanya yang sedikit jual mahal membuat penasaran kaum hawa pemujanya. Lebih-lebih juga dia dikenal royal, pemurah tidak hanya pada kaum wanita, tapi juga pada sesama laki-laki. Dengan pekerjaan sebagai tukang catut (penadah) yang lihai, dia tergolong cukup berduit. Kehidupan rumah tangganya rada mewah. Dengan keadaan demikian, dia selalu terdorong untuk kawin...dan kawin lagi.

Pada suatu malam Jumat bulan September lalu, Lok Soli’ah melangsungkan pernikahannya yang ke tujuh dengan Miskinah sebagai istri tetap keduanya. Walau sering kawin, hebatnya Loq Soli’ah tidak pernah menceraikan istri pertamanya. Istri pertama tetap menjadi ratu dan tidak pernah menghalang-halangi Loq Soli’ah kawin lagi. Dia selalu rela dimadu.

Bakda Isya pada malam Jumat itu, pernikahan Loq Soli’ah dengan Miskinah berlangsung. Serambi masjid sudah penuh dengan undangan, para kiai, penghulu maupun penonton. Kepala dusun (kadus) yang berperan sebagai MC, sudah menuturkan bahwa, acara segera dimulai. Calon pengantin menaiki serambi masjid, langsung duduk di hadapan penghulu. Calon istrinya duduk di samping kiri.

Setelah Soli’ah berhadapan langsung dengan Amaq Jumaq, ayah calon pengantin perempuan selaku wali Mujbir, Kadus Amaq Mahdan bertanya kepada calon pengantin perempuan.

“Sukakah kamu dikawinkan dengan Soli’ah, dan berapa mas kawinya?”

Dengan lantang Miskinah menjawab. “Ya, saya suka dan maskawinnya seratus limapuluh ribu rupiah”.

Soli’ah pun siap. Kemudian Penghulu dusun bertanya kepada Soli’ah.

“Soli’ah, Anda paling sering merepotkan krama gubug. Kawin cerai saja pekerjaannya. Tetapi saya jarang melihat Anda naik masjid. Apakah Anda bisa mengucapkan Syahadat dan juga masih ingat rukun Islam?”

“Ya, saya bisa dan masih ingat,” jawan Soli’ah lantang dan tegas.

“Baik. Kalau begitu sebelum dilangsungkannya akad nikah, Anda harus mengucapkan kalimah syahadat dan menyebutkan rukun Islam. Coba lakukan!” perintah Penghulu.

Keringat dingin Soli’ah tiba-tiba membasahi badannya. Dia tidak langsung mengucapkannya. Dia tampak kurang siap dan ragu-ragu. Sampai hampir lima menit dia tidak bersuara. Jemaah sudah ada yang mulai batuk batuk dan berdehem. Soli’ah semakin gugup. Butiran keringatnya menetes dari pelipisnya.

“Ayo, silahkan mulai,” bentak kadus.

Dengan suara bergetar Soli’ah memulainya. “Asyhadu alla ila illallah, setetu-tetu Nabi Muhammad pesuruq Allah,”

 

Baca Juga :


Gerrr, tawa jemaah bergelegar diiringi tepuk tangan anak-anak penonton. Walau disuruh ulang, dia tetap mengucapkannya dengan salah. Tetapi akhirnya dengan bimbingan penghulu, dia bisa juga mengucapkannya.

Karena syahadatnya sudah dianggap benar, kemudian Soli’ah disuruh menyebutkan rukun Islam.

“Sekarang, coba sebutkan rukun Islam. Jangan gugup, tenang saja,” pinta penghulu.

Sambil menegakkan kepalanya seraya memandang penghulu, Soli’ah mulai mengucapkan rukun Islam.

“Rukun Islam araq lime” (rukun Islam ada lima).

Saq, ilang rue (pertama hilang rupa)

Kedua, ilang rase (kedua, hilang rasa)

Ketelu, ilang ambu (ketiga, hilang bau)

Keempat, yakin (keempat, yakin)

Kelime, suci (kelima suci)

Lagi-lagi gerlah seluruh jamaah yang ada di masjid mendengar jawaban Soli’ah. Mendengar jawaban itu, spontan kepala dusun spaneng. Selesai pengucapan dan setelah agak tenang, Soli’ah digotong ramai-ramai, lalu diceburkan ke telaga di depan serambi masjid. Nah itulah upah dan hadiah perkawinan Soli’ah yang gagah percek!

 



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Komentar Terbanyak

 

image
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan