logoblog

Cari

Gagah Percek

Gagah Percek

Di desa Kopang Kecamatan Kopang, nama Pak Sidin cukup populer. Umurnya sudah berkepala empat. Tetapi ia tetap menjadi idola wanita-wanita muda

Humor

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
17 Januari, 2019 11:33:06
Humor
Komentar: 0
Dibaca: 3502 Kali

Di desa Kopang Kecamatan Kopang, nama Pak Sidin cukup populer. Umurnya sudah berkepala empat. Tetapi ia tetap menjadi idola wanita-wanita muda dikampungnya. Baik gadis maupun janda, bahkan tidak jarang juga wanita bersuami. Penampilannya selalu rapi dan necis. Celana berplui dua, berkemeja panjang warna kalem, sandal Homyped dan berkacamata ungu. Kantong celana belakang kanan selalu tampak penuh dengan dompet. Minyak rambut tidak kurang dari restoria penghitam rambut.

Gayanya yang sedikit jual mahal membuat penasaran kaum hawa pemujanya. Lebih-lebih ia juga dikenal royal, pemurah, tidak hanya kepada kaum wanita, tetapi juga pada sesama laki-laki. Dengan pekerjaan sebagai tukang catut yang lihai, dia tergolong cukup berduit. Kehidupan rumah tangganya rada-rada mewah. Dengan keadaan demikian, dia selalu terdorong untuk kawin lagi.

Pada suatu malam Jumat, bulan Februari ini, menjelang sore Pak Sidin melangsungkan pernikahannya yang ke tujuh kali dengan Mukminah, sebagai istri kedua. Walau sering kawin, hebatnya, Sidin tidak pernah menceraikan istri pertamanya. Istri pertama tetap menjadi ratu dan tidak pernah menghalang-halangi Sidin kawin lagi. Dia selalu rela bermadu.

Ba’da Isya pada malam jumat itu, pernikahan Sidin dengan Mukminah berlangsung. Serambi masjid sudah penuh dengan undangan, para saksi maupun penonton. Kepala dusun yang berperan sebagai pembawa acara sudah memutuskan, bahwa upacara segera dimulai. Calon pengantin menaiki serambi masjid, langsung duduk di hadapan penghulu. Calon istrinya duduk di samping kiri.

Setelah Sidin berhadapan langsung dengan Amaq Jumaq, ayah calon pengantin wanita selaku wali langsung, kepala dusun, Amaq Mahdan bertanya kepada calon pengantin perempuan.

“Sukakah kamu dikawinkan dengan Sidin, dan berapa mas kawinnya?”

Dengan lantang Mukminah menjawab; “Suka dan mas kawin saya lima ratus ribu rupiah”.

Sidin pun siap. Kemudin Amaq Badar, penghulu gubug bertanya kepada Sidin.

“Sidin, Anda paling sering merepotkan kerame gubug. Kawin cerai saja pekerjaannya. Tetapi saya jarang melihat Anda naik masjid. Apakah Anda bisa atau tidak membaca syahadat dan juga masih ingat tidak rukun Islam?”

“Bisa dan masih ingat,” jawab Sidin spontan

“Baik, kalau begitu sebelum dilangsungkan akad nikah, Anda harus mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyebut rukun Islam. Coba lakukan!” pinta penghulu.

Keringat dingin Sidin tiba tiba membasahi badannya. Ia tidak langsung mengucapkannya. Ia tampak kurang siap dan ragu-ragu. Sampai hampir sepuluh menit ia idak bersuara. Jamaah sudah ada yang mulai batuk-batuk dan berdehem. Sidin semakin gugup. Butiran keringat menetes dari pelipisnya.

“Ayo, silahkan mulai,” bentak kepala dusun dengan suara bergetar. Mendengar perintah itu Sidin memulainya.

 

Baca Juga :


“Asyhadu alla ila ilallah, setetu tetu Nabi Muhammad pesuruq Allah….”

Tawa jemaah berderai diiringi tepuk tangan anak-anak yang turut menonton. Walau disuruh ulang, ia tetap mengucapkannya dengan salah. Tetapi akhirnya dengan bimbingan penghulu, ia bisa juga membetulkannya.

Karena syahadatnya sudah betul, kemjudian ia disuruh menyebutkan rukun Islam.

“Sekarang coba sebutkan rukun Islam. Jangan gugup,tenang saja,” pinta penghulu. Sambil menegakkan kepalanya seraya memandang penhulu, Sidin mulai berucap:

Saq, telang rue (pertama, hilang rupa)

Kedue, telangrase (kedua, hilang rasa)

Ketelu, telang ambu (ketiga, hilang bau)

Keempat, yaqin (keempat, yaqin)

Kelime, suci (kelima, suci)

Maka gegerlah jamaah yang ada di masjid mendengar jawaban Sidin. Mendengar jawaban itu, spontan kepala dusun spaneng. Selesai pengucapan dan setelah agak tenang, Sidin digotong ramai-ramai, lalu diceburkan ke dalam kolam di depan serambui masjid.

Nah, itulah upah dan hadian perkawinan Sidin yang gagah percek itu.



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Komentar Terbanyak

 

image

Tipi Kampung

 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan