Antara Koran dan TV

Suatu hari Abu Macel dan Bongoh berdebat mengenai peran koran dan televisi. Menurut Abu Bongoh, koran sudah bisa digantikan oleh televisi. Orang hampir tak memerlukan Koran lagi sebagai media informasi, sebab sudah tergantikan oleh media audio visual bernama televisi. Abu Macel yang bekerja di Harian Nyelekit Pos tentu saja keberatan dengan pendapat Bongoh. Macel bersikeras bahwa pangsa pasar dan fungsi koran berbeda dengan televisi sehingga koran masih sangat dibutuhkan saat ini.

Selama ini Koran lokal hanya penyalur informasi saja, belum bisa menjadi bahan refrensi atau bisa dijadikan inspirasi. Kemudian ABu Bongoh menunjukkan koran Nyelekit Pos sambil berkata, “Nih contoh kecil, Cel. Koran ini hanya memuat ucapan ‘Selamat & Sukses’. Penuh satu halaman! Beritanya mana? Harganya juga lebih mahal dari koran lainnya yang penuh berita dan informasi. Masyarakat beli koran kan mau cari berita bukan mau baca iklan ucapan ‘Selamat & Sukses’ yang dipasang hampir penuh ini. Bila sudah seperti ini, beritanya mana?”

“Belum lagi jelang hari raya atau pas ada pelantikan pejabat dan pengumuman-pengumuman. Entah itu Calon Pegawai Negeri Sipil, Calon Anggota Legislatif, Sistem Penjaringan Mahasiswa Baru dan lain-lain. Padahal itu bisa dibuat lampiran tersendiri. Jadi masyarakat yang ingin cari berita tidak terampas hak-haknya. Toh mereka kan juga bayar untuk dapat koran ini bukannya nyolong. Kalau TV ada gambarnya, bila tidak suka sama iklan dapat diganti ke saluran lain. Tinggal tunggu waktu saja sebentar lagi TV akan menggantikan seluruh fungsi koran,” sambung Bongoh menjelaskan.

Dengan tenang Abu Macel mengambil Harian Nyelekit Post itu, menggulungnya dan secepat kilat memukul kecoak yang kebetulan melintas disamping mereka sampai mati kemudian bertanya, “Pernahkah kamu menggebuk kecoak pakai televisi?”

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru