Motor Baru Hebohkan Warga Kampung

Cerita ini bukan fiktip belaka. Ini adalah cerita yang penulis angkat dari kejadian yang dialami oleh warga kampung saya pada dua bulan yang lalu. Sore hari itu, Petugas Dealer mengantarkan motor baru ke rumahnya Amaq Sumeni. Tidak pernah ada cerita burung atau kabar angin, tiba-tiba Amaq Sumeni dianterin Motor bermerek Revo. Hahahaaa… ternyata beliau sudah memesan motor itu sejak minggu yang lalu. Maklumlah panen jambu mente beliau sudah final dan kayaknya pendapatnya cukup besar dari mente yang memenuhi 1,5 hektar kebunnya.

Saat petugas Deler nganterin motornya, tetangga Amaq Sumeni berbondong-bondong melihat motor baru itu. Beliau merasa bangga sebab sore hari itu, beliau tidak lagi bermimpi ingin punya motor. Karena hari sudah malam, Amaq Sumeni memasukkan motornya. Motor baru itu dimasukkan dengan hati-hati, kemudian disetandar di ruang tamu.

Singkat cerita, hari beranjak malam dan pagi-pun menjelang. Seperti pemilik motor lainnya, pas bangun tidur dan menyelesaikan aktifitas pagi. Sekitar pukul enam, Amaq Sumeni memanaskan kuda barunya itu. Tidak lama berselang, Inaq Sumeni masuk ke ruang tamu kemudian mengelus-elus motor yang baru saja dihidupin oleh suaminya. Dengan terheran-heran Inaq Sumeni mengelilingi sambil memeriksa bagian motor satu per-satu sedangkan sang suami duduk manis di samping motor sambil menikmati secangkir kopi yang disuguhkan oleh sejolinya.

Amaq Sumeni terus mengawasi istrinya yang berputar terheran-heran di sekitar motor baru-nya. Maklumlah, ini adalah kali pertama mereka punya motor sendiri. Perlahan Inaq Sumeni naik ke atas sepeda motor yang sedang dipanaskan oleh suaminya. Karena penasaran, Inaq Sumeni kemudian melontarkan beberapa pertanyaan kepada sang suami. Sambil memegang setang, kaki kanan Inaq Sumeni menginjak-injak rem belakang. Lalu ia melontarkan tanya “Kanda yang saya injak ini namanya apa ?”, Amaq Sumeni langsung menjawab “oooo… itu namanya rem belakang dinda”.

Inaq Sumeni bertanya lagi, “Kalau yang ini apa namanya ?, tangan kanannya menarik-narik rem depan. “yang itu namanya rem depan”, jawab sang suami. Inaq Sumeni masih menunggang motor dan sepertinya ia keasykan di atas sadel motor itu. Ia kembali melontarkan tanya. “yang saya injak ini namanya apa kanda ?”. Kaki kirinya menginjak gigi motor. “Itu namanya gigi”, jawab sang suami.

Sepertinya Amaq Sumeni mulai jengkel melihat sang istri yang tanya-tanya terus. Ia kemudian bangun dari duduk manisnya sambil mengangkat cangkir kopinya. “Lah keteteh em arik (kamu cerewet banget sich dinda)”. Kata-nya, sambil berjalan hendak meninggalkan ruangan tamu. “Lah,, be aran jak endekte naon kakak, side jak ha’ menu-menu de sili (ea,,, namanya saja kita tidak tau kanda, gitu ja marah”. Jawab Inaq Sumeni sambil menoleh suaminya dari atas motor.

“kalau yang ini apa namanya kanda ?, sekali lagi Inaq Sumeni melontrakan tanya sambil memegang gas sang Revo”. “Itu namanya gas”. Kata sang suami dengan nada marah. Oooo, yang ini namanya rem belakang, Ini namanya rem depan, Ini namanya gigi, Dan ini namanya gas. Kata Inaq Sumeni sambil menarik gas motor-nya. Wenggggggggg……. Brukkkkkkk,,, Prengngggggggg pengpengggggpenggg.

Motor melaju membawa Inaq Sumeni menabrak lemari kaca yang berada di ruang tamunya. Bagaimana tidak, wong tadi saat bertanya, Inaq Sumeni memasukkan gigi motor yang ditunggangi dan saat bertanya tentang gas, ia menarik gas motor sekenceng-kencengnya.

Heheheee…. Kasian Inaq Sumeni. Inaq Sumeni terpental sedangkan si Revo baru terguling dan ditimpa oleh lemari beserta perabot rumah tangga yang menjadi isinya. Mendengar suara itu, Amaq Sumeni langsung masuk. Ia melihat sang istri yang sudah terkapar babak belur akibat beling pecahan piring, gelas dan pecahan kaca lemari-nya.

Melihat motornya terkapar dengan kondisi babak belur, Amaq Sumeni langsung saja mengurus mngangkat motor-nya yang sudah kehilangan mata. Sedangkan istrinya diabaikan begitu saja. Hahahaaaa…… Inaq Sumeni…. Inaq Sumeni…. Amaq Sumeni…. Amaq Sumeni…. Kasian banget diri mu, baru punya motor baru, sudah dapat bencana. Motor baru rusak, lemari gandeng ancur, piring dan gelas pecah belah, dan sang istri babak belur. Heheeewwwwwwwwww.

Deritanya dobal dabil. Melihat situasi seperti itu, Amaq Sumeni mengomeli istrinya yang masih terkapar di lantai ruang tamu. Ianq Sumeni, langsung bangun dan membalas omelan suaminya. Sebab sang suami lebih sayang motor-nya dari pada dia. Bagaimana tidak, sang suami hanya ngurus motor barunya tanpa menghiraukan istrinya. Ahirnya sejoli itu terlibat dalam pertengkaran. Sedangkan tetangga dan masyarakat sekitar berbondong-bondong menonton perkelahian itu.

Mereka tidak melerai pertengkaran Amaq Sumeni dan Istrinya, malahan mereka tertawa terbahak-bahak sebab meilihat motor dan ruang tamu rumah Amaq Sumeni yang amburadul dan dipenuhi oleh pecahan kaca lemari, pecahan piring, dan pecahan gelas yang berserakan.

Ahir cerita, beberapa orang warga menggotong Inaq Sumeni ke Pustu yang berada di dekat rumahnya. Sedang sang suami tetap tidak mau memperhatikan istrinya. Ia sangat kesal sebab sang istri sudah menabrakkan motor barunya.

Cerita motor baru milik Amaq Sumeni bikin heboh warga kampung kami. Hingga kini masyarakat setempat sering membuat kisah itu sebagai lelucon saat berkumpul di berugak, saat zikiran, dan dikala ada kegiatan-kegiatan gotong royong. Padahal peristiwa itu sudah terjadi dua bulan yang lalu.

Okey-lah Warga Kampung Media, demikianlah kisah Motor Baru Milik Amaq Sumeni. Semoga Warga Kampung Media bisa tertawa dan senyam senyom saat membaca cerita ini dan semoga kisah ini tidak terulang pada tetangga atau kerabat Warga Kampung Media. Agung-Agung SInampure.,,,, dan Tampiasih. _By. Asri The Gila_ [] - 03

ilustrasi foto NET

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru