Gara-Gara Kuper

KM. Begibung. Biasanya kampung atau desa yang kebetulan berlokasi di pinggir jalan raya, nama jalan diberi sesuai dengan jalur di mana kampung atau desa tersebut berada. Sebagai contoh, desa atau kampung yang berada di Kecamatan Kopang Lombok Tengah, apabila kampung atau desa tersebut berada di sebelah utara jalan, maka nama jalan tersebut diberi nama Jln. Raya Timur. Demikian sebaliknya, apabila desa atau kampung yang kebetulan berlokasi di sebelah selatan jalan raya, maka akan deberi nama Jl. Raya Barat.

Berbeda dengan nama-nama jalan yang digunakan di kota kota seperti Jakarta, nama jalan biasanya diambil dari nama-nama pahlawan seperti: Jln. Tamrin, Jln. Ahmd Yani, atau Jln. Sudirman. Jadi ketika kondektur bus ingin memberi tahu penumpang yang akan turun di lokasi dimana  mereka akan turun, maka dia cukup menyebut nama jalan.

Alhasil ada seorang warga kampung bernama Sidin yang sangat ingin berkunjung ke kota jakarta yang selama ini hanya dia dapat saksikan melalui layar kaca. Oleh karena keinginannya yang menggebu-gebu, maka dia berupaya keras mencari ongkos untuk pergi ke sana dan pada ahirnya mimpi Sidin menjadi kenyataan.

Singka cerita ketika Sidin turun di bandara Soekarno-Hatta, dia memilih naik bus bandara untuk menuju ke rumah salah seorang kerabatnya yang telah lama tinggal di Jakarta. Beberapa saat di dalam bus terdengan sang kondektur  mengatakan" Sudirman.. Sudirman...Sudirman, maka para penumpang yang jurusan jln Sudirman turun. Buspun berangkat kembali membawa sisa penumpang yang ada. Tidak lama kemudian kondektur buspun lagi-lagi berkata “Yani...Yani...Yani”, maka penumpang jurusan jalan Ahmad Yani pun turun. Pada saat bus berhenti, Si Sidin memperhatikan para penumpang yang turun seraya berkata dalam hatnya” kok banyak sekali penumpang bernama Yani,  masa semua yang turun itu bernama Yani” demikian gumamnya.

Kini Si Sidin merasa kebingungan dan bertanya-tanya dalam hati. "sudah sejauh ini kenapa nama saya kok belum di sebut-sebut untuk dipersilahkan turun”. Dia mengira penumpang yang turun itu bernama Sudirman atau Yani seperti yang disebut oleh kondektur, maklum Sidin orangnya Kuper alias kurang pergaulan. Jadi, dia tidak tahu kalau nama-nama yang disebut kondektur adalah nama jalan yang akan dituju oleh para penumpang bus..

Lagi-lagi Si Sidin tidak habis fikir apa maksud sang kondektur menyebut nama-nama itu. Tidak lama kemudian sang kondektur lagi-lagi mengingatkan penumpang yang akan turun di jln Tamrin dengan mengatakan" Tamrin...Tamrin...Tamrin". dan setelah bus berhenti penumpangpun turun. Melihat pemandangan terdebut Si Sidin semakin bingung lagi. dikiranya penumpang yang turun tersebut bernama Tamrin.

Kini tinggal dia sendiri di dalam bus. Resah, gelisah bercampur bingung dan kembali berkata dalam hati "Di mana saya harus turun sementara nama saya kok tidak dipanggil-panggil. Akhirnya dia berspekulasi dengan memanggil-manggil dirinya dengan berkata “Sidin ..Sidin..Sidin di sini saya turun pak kernet”. Mendengar suara tersebut, sang kondektur terkejut dan menoleh ke sumber suara. Melihat tingkah pemilik suara yang menyebut-nyebut sebuah nama asing ditelinganya, sang kondektur bertanya pula dalam hati "kenapa kok penumpang itu menyebut nyebut sebuah nama?” Dia tidak tahu kalau nama yang disebut-sebut adalah nama penumpang itu sendiri. Menyaksikan keanehan tersebut, maka sang Kondektur berkesimpulan kalau penumpang yang satu ini  orang gila. Akhirnya dengan segera dia menurunkan Si Sidin dari busnya...hehehe...mudahan lucu. (Zul).

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru